Gaya Dandan Ala Anak Hipster

Gaya Dandan Ala Anak Hipster – Hipster itu apa sih? Sering denger tapi tidak tahu artinya apa. Hmm, Hipster memang sudah menjadi fenomena tersendiri di kalangan anak muda akhir-akhir ini. Pengertiannya pun macam-macam, namun rata-rata mengartikannya sebagai sekumpulan anak muda yang tingkat ekonominya menengah ke atas dan “anti-mainstream”. Istilah “anti-mainstream” bagi mereka ini termasuk dalam hal selera film, musik, hingga fashion.

Istilah hipster sering diberikan kepada orang tertentu, diantaranya mereka yang suka lain sendiri. Baik itu soal berpakaian gaya rambut atau yang lainnya. Bila pakaian atau gaya rambut yang mereka gunakan sudah populer, mereka justru melepasnya dan mencari gaya yang baru dan belum banyak yang tahu. Memang kelihatannya agak sulit untuk membedakan mana orang hipster dan mana orang yang bukan hipster. Namun, kamu bisa mengetahui apakah teman kamu atau diri kamu sendiri itu hipster atau bukan dengan melihat ciri-ciri hipster berikut ini: http://www.shortqtsyndrome.org/

Gaya Dandan Ala Anak Hipster

Lalu, ciri-ciri anak Hipster tuh gimana sih? Langsung intip aja yuk bagaimana gaya dandan ala anak Hipster pada ibukota, simak berikut ini.

1. Kacamata

Salah satu ciri yang paling bisa kelihatan dari seorang Hipster adalah penggunaan kacamata. Item yang satu ini bukan cuma dipakai buat membantu penglihatan lho, tapi kadang dipakai cuma buat gaya doang. Umumnya, kacamata yang dipakai adalah kacamata dengan model frame yang terkesan vintage dan berukuran besar.

2. Skinny Jeans

Skinny jeans buat para Hipster tidak cuma berlaku buat para ceweknya aja. Outfit yang satu ini juga wajib buat Hipster kaum adam. Jadi, jangan heran ya kalau Loopers nemuin cowok-cowok yang pakai celana super ketat di jalanan. Soalnya, itu adalah salah satu cara mereka untuk tampil keren dan ‘beda’.

3. Baju kotak-kotak

Berlanjut ke atasan, kaum Hipster biasanya suka banget pakai kemeja kota-kotak berbahan flannel. Itu lho, kemeja kotak-kotak yang sempat ngehits banget di online shop beberapa waktu yang lalu. Cara memakainya pun tidak cuma harus dipakai di badan saja, kadang mereka cuma melilitkannya di bahu atau di pinggang. Selain kemeja, outfit yang tidak boleh dilupain sama kaum Hipster adalah jaket dengan hoodie atau tudung yang ngepas di badan.

4. Floral dress

Khusus buat cewek-cewek Hipster, gaun bermotif floral atau bunga-bunga adalah item fashion yang wajib. Tidak cuma gaun sih, mereka juga banyak bereksperimen dengan menggunakan atasan dengan motif serupa biar keliatan lebih chic.

5. Sepatu keds atau boots

Untuk melengkapi penampilan keren mereka, kaum Hipster pun sangat memerhatikan model sepatu yang mereka pakai. Biasanya sih yang cowok-cowok pakai sepatu keds biar tetep nyaman, sedangkan yang cewek lebih berani dengan memakai sepatu boots model granny biar terkesan vintage.

Cara Menjadi Hipster :

Gaya Dandan Ala Anak Hipster

Fashion Hipster :

1. Berpakaianlah seperti seorang hipster. Fashion sama pentingnya dengan selera musik Anda. Walaupun berbelanja di toko pakaian klasik tetap menjadi favorit banyak hipster ini bukanlah suatu keharusan, dan tidak pula ini harus menjadi bagian dari lemari pakaian seorang hipster.

– Ketahui labelnya. Sebagian label mengkhususkan diri untuk hipster; label-label yang cukup terkenal di antaranya adalah American Apparel, H&M, ASOS, CobraSnake, dan Urban Outfitters

– Hindari membeli barang-barang dari cabang toko suatu label (konsumerisme yang sangat buruk!). Carilah toko independen karena mendukung toko yang sangat jarang terdengar itu “sangat keren”. Contohnya, belilah pakaian dari toko fashion lokal di daerah Anda.

2. Kenakan skinny jeans. “Skinny jeans” yang klasik membuat setiap laki-laki atau perempuan terlihat hipster. Laki-laki hipster memakai jeans yang se-“skinny” jeans perempuan.

– Perhatikan bahwa laki-laki sebenarnya memakai skinny jeans lebih sering daripada perempuan (perempuan lebih menyukai legging/jegging/tregging)

– Perempuan juga dapat memakai celana yang setinggi pinggang (atau “mom jeans”).

3. Pakai kacamata. Hipster menyukai kacamata yang ironis seperti kacamata garis-garis (shutter shades), kacamata bingkai plastik yang kebesaran, kacamata Buddy Holly, kacamata kutu buku, dan – untuk yang bisa membelinya – Ray Ban Wayfarers asli dengan seluruh warna pelangi.

– Sebagian hipster mengenakan kacamata walaupun penglihatannya sudah sempurna! Dalam kasus ini, lepaskan lensanya atau pastikan itu memang hanya kacamata gaya.

4. Kenakan atasan yang ironis. Untuk atasan, berikut adalah pilihan yang cukup baik: kaus ironis, kemeja kotak-kotak, kemeja koboy, dan apa saja yang bermotif kotak-kotak, paisley, atau bunga-bunga vintage.

– Banyak hipster menyukai atasan dengan applique (desain tambahan yang dijahit atau dibordir), gambar hewan atau hutan, dan gambar-gambar karakter dari acara TV anak-anak, serta ungkapan-ungkapan ironis atau bahkan sampul buku.

– Jaket hoodie ketat juga merupakan pilihan yang baik.

5. Kenakan baju vintage. Gaun merupakan pilihan yang baik untuk wanita, dan lebih baik lagi jika motifnya bunga-bunga klasik atau berenda. Lemari pakaian nenek adalah tempat yang sempurna untuk mencari pakaian Anda; namun, Anda harus bisa menjahit dan mendesain ulang pakaian klasik tersebut untuk menyesuaikan gaya Anda.

6. Cari alas kaki yang sesuai. Sepatu hipster meliput sepatu koboy, Converse, dan flats.

– Converse sudah tidak menjadi merek yang universal. Sepatu mereka terlihat bagus dan Anda bisa memakainya di mana saja, namun karena semua orang memakainya, Doc Martens atau sepatu vintage lain merupakan pilihan yang lebih baik.

– Jika Anda mencari sepatu kets, lihatlah di Reebok Classic.

– Untuk perempuan, sepatu hak tinggi bukan pilihan yang paling populer, tetapi kenakan saja jika Anda suka. Sandal lucu, Keds, boots, dan granny boots tidak saja lebih praktis namun menunjukkan seberapa kecil usaha yang Anda perlukan untuk memakainya (walaupun sebenarnya Anda membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menemukan pilihan yang cocok).

7. Gunakan aksesori. Ada banyak pilihan aksesori, termasuk ikat kepala besar bermotif bunga-bunga, cat kuku neon, pin, sabuk yang mencolok, kalung, legging berwarna dan bermotif, dll.

– Jangan lupakan tindik dan luka-luka kecil yang terlihat seakan Anda dapatkan melalui pekerjaan kayu atau sejenisnya.

– Aksesori ironis yang tepat merupakan keharusan, seperti barang-barang yang suka dibawa anak-anak ke sekolah, seperti gambar binatang di kotak makan.

– Aksesori penting lainnya meliputi tas selempang (bukan tas punggung), sebaiknya dari Freitag, yang dapat memuat MacBook, iPhone, dan vinyl (jangan pernah membawa CD) band favorit Anda.

8. Gunakan pakaian yang tidak cocok. Menggunakan barang-barang yang tidak cocok itu hipster sekali. Itu memberikan kesan “aku tidak peduli” yang sebenarnya membutuhkan perencanaan sampai Anda terbiasa dengan kebiasaan seperti ini.

– Ingat bahwa pakaian hipster tidak pernah memerlukan penyesuaian saat Anda ingin pergi ke pantai – tetap gunakan pakaian kota Anda untuk bermain pasir dan berselancar untuk terlihat menonjol secara ironis.

Continue Reading

Share

Subkultur Indie Pada Generasi Millennial

Subkultur Indie Pada Generasi Millennial – Bagi kalian yang suka ngaku anak indie banget, sebenernya udah tau belum apa itu indie? apakah kalian cuma mau ikut-ikutan biar di bilang keren karena industri band indie sekarang lagi mulai naik? Nah tak boleh sampe begitu ya nanti kamu malah nanti dikira anak jamanan yang bisanya cuman ikut ikutan mending kita bahas disini tentang pemahaman dari kata indie tersebut.

Indie merupakan singkatan dari kata independent, yaitu sifat sifat yang ‘mandiri’, ‘bebas’, ‘merdeka’. Pada dunia musik, indie berarti melakukan Do-It-Yourself approach saat melakukan rekaman dan publishing. Para band indie bebas ga kayak band populer atau band di arus utama yang terikat sama label rekaman, dari mulai pemilihan rekaman lagu sampe promosi lagu itu sendiri. slot online

Subkultur Indie Pada Generasi Millennial

Sekarangkan banyak banget band indie yang lagunya kadang beda banget dari lirik sampe music aransemenya yang jauh berbeda dengan lagu-lagu hits yang lagi naik di pasaran.tetapi kebanyakan orang masih salah dengan paham akan dunia indie, dengan menganggapnya indie sebagai genre, atau bahkan fashion style.

Sebetulnya tak ada yang namanya genre indie atau gaya fashion indie. Mereka hanya mencampur mode mainstream modern dengan yang ada di era 80-an yang begitu edgy dan tidak ada yang indie tentang itu, mereka pada dasarnya hanya mengikuti MAINSTREAM di tahun 80-an jadi bagaimana meraka itu bisa indie juga? Indie pun dapat dikatakan ketika seseorang memulai sebuah perusahaan apakah itu musik, film, atau apa pun, tanpa intervensi dari perusahaan besar komersial yang sudah sukses dan anda mendanai diri sendiri dengan uang anda sendiri.

Sehingga Indie itu bukan ketika Anda minum kopi setiap hari dan mendengarkan lagu fourtwnty 24/7 di spotify. Namun, berseni juga bukan gaya, itu istilah umum. Setiap fashion merupakan seni karena itu seni. Juga, estetika adalah istilah umum yang digunakan terutama pada bidang kecantikan atau kosmetik. Saya pikir Cara terbaik untuk mengatakan hal-hal “estetika” adalah vaporwave atau grunge theme.

Akan tetapi pemahaman indie ini masih banyak dianut oleh banyak orang, dan sayangnya salah besar. Apabila menyaksikan pada penjelasan, jelas indie bukanlah genre, namun gerakan mandiri musisi tersebut, mulai dari recording hingga publishing dilakukan secara sendiri. Tetapi kata indie dapat menjadi tambahan deskriptif pada suatu genre, menjelaskan perbedaan antara aspek musik dan aspek bisnis dalam musik. Misalnya: indie-rock, indie-pop, indie-rap, dll.

Musisi indie pun pada umumnya menciptakan arasemen dan lirik sesuka mereka tanpa paksaan seperti layaknya pada label yang terikat dengan peraturan pada dasarnya musikindieini tidak mengikuti tren pasar. Maka, tidak jarang lagu-lagu karya musisi indie dapat dibilang unik dan berbeda dengan lagu kebanyakan. Namun nyatanya, sebagian band indie seperti misalnya seperti band Feast yang lagi sangat naik daun ini berhasil menyihir telinga kalangan anak mainstream. Karena permainan lirik dan kosakata membuat orang mudah mengerti makna dari lagu tersebut.

Subkultur Indie Pada Generasi Millennial

Akanctetapi pada akhirnya, perkembangan indie tersebut dibarengin dengan pergesaran makna indie itu sendiri. Tidak cuma salah dalam mengartikan sebagai genre, indieseolah jadi gaya hidup, bahkan dianggap sebagai style fashion.

Namun sekarang musik Indie lagi naik dan diminati oleh banyak orang, Padahal bila di dengar dan dinikmati musik indie ini merupakan musik yang sarat akan maknanya. Musik indie tidak hanya membahas masalah soal percintaan semata kayak musik lainya, lebih dari itu music indie juga mengangkat isu sosial,kemanusiaan,lingkungan,politik dan sebagainya

Sama dengan beberapa yang menangkat soal percintaan yang kini lagi naik daun yaitu Fiersa Besari band indie asal Bandung ini mampu menyampaikan suatu makna lagunya lewat penontonya dengan lirik cinta yang begitu mendalam.

Begitu pula pun band indie asal dari Bali ini yaitu Nosstress band ini bergerak dibawah label walaupun tidak terlalu dikenal dengan anak zaman sekarang tetapi band ini mempunyaikeunikan dalam setiap penyampaian dari lagunya serta dari petikanya dan liriknya yang menyindir para politik tentang lingungkan yang terjadi di Bali.

Padahal musik indie sekarang mengalami transformasi yang cukup luar biasa di era ini yang dimana sekarang sudah banyak platform yang mendukung band indie untuk terus berkarya tanpa batasan. Selain itu juga Band Indie ini menjual beberapa single seperti album fisik dan merchandaise untuk menutup rekaman album mereka yang telah jalankan tetapi itupun juga sepertinya tidak cukup tetapi secara membeli merch/album saja sudah sama saja mengapreasi musisi band indie untuk terus berkarya.

Pokoknya, boleh banget kalau kalian pada kepo atau interest tentang hal-hal berbau indie. Malahan, mereka juga bukan dukungan kita. Yang terutama, kita sendiri juga harus paham apa arti dari indie itu. Indie bukanlah berarti harus folk, bukan berarti harus metal, bukan berarti gaya bajunya harus retro. Siapa saja yang berkarya secara mandiri, itu lah anak-anak indie.

Deretan Gaya Anak Indie yang Bisa Jadi Inspirasi Penampilanmu :

Subkultur Indie Pada Generasi Millennial

Akhir-akhir ini gaya indie memang lagi hits banget di kalangan anak muda. Sekadar informasi, indie itu adalah singkatan dari individual. Kata indie itu nggak hanya dipakai untuk band saja, tapi juga bisa menyebutkan gaya pakaian hingga seni yang unik.

Orang-orang yang bergaya indie biasanya berbeda dan nggak mengikuti tren yang ada di luar sana. Sebagian besar gaya indie memilih untuk tampil dengan gaya vintage, retro atau apapun yang menurut mereka nyaman.

Kali ini telah dirangkum berbagai macam gaya khas dari anak-anak indie. Kira-kira seperti apa sih gaya mereka? Penasaran?

1. Gaya indie menjadi semakin keren dengan menambahkan aksesori berupa topi fedora berwarna hitam. Padukan dengan blouse bernuansa denim dan celana jeans, kamu pun siap tampil kece!

2. Busana seperti parka, kemeja, dan hotpants juga perpaduan yang sempurna. Agar gayamu nggak monoton, kamu bisa mengenakan sepasang sepatu boots.

3. Jika kamu mati gaya, contek saja gaya anak indie ini dengan memadukan kaus dan kemeja lengan panjang. Tambahkan topi dan kacamata biar tampilanmu makin sempurna.

4. Suspender memang sempat hits di tahun 80-an, tapi kamu bisa tampil kembali dengan fashion item tersebut lho. Modis banget ya.

5. Nah yang satu ini sih, gayanya indie banget. Jaket kulit tampak sempurna dengan kaus motif garis-garis yang dikombinasikan dengan ripped jeans. Santai tapi tetap keren!

6. Kalau kamu mau memberikan kesan yang feminin, mengenakan dress bermotif floral bisa jadi pilihan yang tepat. Nah biar tetap terkesan indie, padukan bersama jaket kulit dan topi fedora.

7. Gaya indie memang memberikan kamu kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai macam busana. Kamu bisa tampil dengan kaus motif bunga dan celana jeans yang bagian ujungnya digulung rapi. Sempurna deh.

Continue Reading

Share

Casuals: Tetap Modis Ketika Berkelahi

Casuals: Tetap Modis Ketika Berkelahi – Ada masa ketika fashion dan kekerasan menyatu dalam labirin suporter sepakbola. Era tersebut dimulai ketika subkultur ‘Casuals’ muncul di Inggris.

Salah satu cara termudah untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan ‘Casuals’ adalah: bayangkan seseorang masuk ke stadion dengan setelan sportswear rapi jali dari berbagai jenama premium, lalu ketika pulang ia singgah ke pub terdekat untuk membuat keonaran dan berkelahi dengan sembarang orang (biasanya suporter rival) di sana.

‘Casuals’ merupakan salah satu varian (atau dapat pula dikatakan turunan) dari ‘Hooligan’, namun memiliki perbedaan-perbedaan fundamental dalam hal seperti berbusana. Sekumpulan ‘Casuals’ adalah gerombolan suporter yang memang modis secara sadar kendati pada hakikatnya mereka juga berasal dari kelas pekerja. idn slot online

Casuals: Tetap Modis Ketika Berkelahi

Tingkah modis ‘Casuals’ terpengaruh dari subkultur ‘Teddy Boy’ pada awal 50-an setelah Perang Dunia II. Gaya ‘Teddy Boy’ dimulai dari Savile Row, sebuah ruas jalan di London yang banyak diisi penjahit khusus busana pria. Kehadiran subkultur ‘Teddy Boy’ pun sejatinya merupakan bentuk kultur tanding dari penetrasi budaya Rock n’ Roll di Amerika yang saat itu mulai mewabah.

Bila style ‘Rock n’ Roll’ cenderung slengean, paduan dari skinny jeans + baju rombeng + jaket kulit yang mengejawantahkan sikap anti kemapanan, ‘Teddy Boy’ memilah kembali ke cara berbusana di era Edwardian yang maskulin lagi dandy: coat+ jas berwarna gelap+ sepatu pantofel mengkilat+ gaya rambut disisir rapi ke belakang atau biasa dikenal dengan istilah ‘slick back hair’.

‘Casuals’ memang tak berdandan an sich sebagaimana kaum ‘Teddy Boy’. Yang mereka adopsi adalah semangat untuk selalu tampil dengan rapi kemana-mana tanpa meninggalkan sikap slengean. Umumnya, suporter ‘Casuals’ kerap memakai busana dengan ciri: polo shirt yang dipadukan dengan tracktop jenama Fila atau Sergio Tacchini (pilihan lain adalah outdoor jacket merek Peter Storm), celana baggie bermodel gombrong, lalu sneakers Adidas.

Eksklusif item terakhir, jenama tersebut seolah telah menjadi identitas ‘Casual’ di manapun. Bahkan para ‘Casuals’ memiliki jargon tersendiri untuk sneakers Adidas: “This is for standing, not for running”.

‘Casuals’: Fashion Statement atau Gerakan Sosial atau Keduanya?

Sebenarnya tidak pasti jelas sejak kapan tren ‘Casuals’ dalam sepakbola dimulai.

Sebagian sumber, salah satunya seperti BBC, menyebutkan bahwa tren ‘Casuals’ berlangsung sejak para Liverpudlians (suporter Liverpool) kerap bertandang ke stadion lain di Eropa demi mendukung tim kesayangan mereka pada akhir 70-an. Mayoritas dari mereka merupakan kelas pekerja.

Seluruh ‘Casuals’ ini kemudian mulai jamak dikenali ketika The Reds bertanding melawan St. Etienne di perempat final Liga Champions 1977-1978, musim kala Liverpool yang menjadi juaranya. Dari itulah inilah ‘Casuals’ mulai mengundang perhatian para pecinta sepakbola lantaran gaya berbusana mereka yang cukup kosmopolit karena memadupadankan berbagai jenama mahal lintas Eropa.

“’Casuals’ memiliki pengaruh besar dalam industri fashion 80-90-an. Pengunaan label premium seolah menjadi kewajiban karena kemunculan mereka. Seluruh itu perpaduan dari upaya anti-kemapanan dan gaya yang flamboyan: baby-cord trousers dengan jaket Norfolk dan topi deerstalker. Itu adalah citarasa fashion gaya Inggris dan Italia, sensasi urban lintas negara. Keadaan itu sangat lazim sekarang,” ujar Robert Wade Smith, pemilik butik Wade Smith, sebuah toko busana di Liverpool yang fokus kepada tren ‘Casuals’, kepada The Guardian.

Tetapi menurut Colin Blaney, salah satu dedengkot ‘Hooligan’ Red Army, suporter garis keras Manchester United, sebelum muncul ‘Casuals’ sudah ada sebuah subkultur lain di pada pertengahan 70-an di Manchester dengan semangat serupa. Namanya: ‘Perry Boys’. Begitu juga ‘Casuals’, ‘Perry Boys’ juga mula-mula dikenal karena kesadaran berbusana mereka. Salah satu cirinya merupakan kerap mengenakan kemeja Fred Perry, kaos polo jenama Peter Werth, jeans dari Lois, atau sepatu Dunlop Green Flash.

Begitu juga yang dijelaskan, ‘Casual’ atau ‘Perry Boys’ memang secara dengan sadar mencitrakan diri mereka sebagai suporter modis dengan mengenakan barang berjenama mahal. Akan tetapi hal tersebut sejatinya bukanlah alasan utama. Bagi keduanya, cara tersebut dipilih sebagai trik untuk dapat menghindari aparat sekaligus berbaur dengan suporter musuh tanpa takut ketahuan.

Terkecualikan dari siapa yang lebih dulu muncul, baik ‘Casuals’ maupun ‘Perry Boys’ sebetulnya dapat dikatakan merupakan bentuk genre fashion alternatif bagi para suporter sepakbola hardcore di Inggris yang kala itu didominasi oleh gaya ala ‘Skinhead’ dengan ciri khas boots berwarna gelap Dr. Martens, kaos polo, dan skinny jeans. Cuma saja, secara musikalitas para ‘Casuals’ tetap memelihara akar kelas pekerja khas ‘Skinhead’, ‘Oi!’, atau ‘Rude Boy’.

Casuals: Tetap Modis Ketika Berkelahi

Berikutnya ke era 80-an, seiring dengan kian makin populernya tren ala ‘Casuals’, beberapa band yang di Inggris juga turut mengadopsi gaya dari mereka seperti The Stone Roses, The High, atau Inspiral Carpets. Tidak ikut ketinggalan juga berbagai skena musik seperti ‘Acid House’ (varian dari musik elektronik) atau ‘Madchester’ yang turut bermunculan.

Pada era 90-an, dengan munculnya genre subkultur alternatif lainnya yang dinamakan yaitu Britpop (sebuah kultur tanding melawan penetrasi Grunge dari Amerika), para ‘Casuals’ ini pun turut menggemakan keberadaannya. Hendaknya, band-band Britpop yang bermunculan seperti BLUR, misalnya, juga mendandani diri mereka selayaknya ‘Casuals’. Simbiosis mutual antara musik dan sepakbola inilah yang menjadi wajah sepakbola Inggris pada saat itu.

Saat memasuki pada akhir era 90-an, popularitas ‘Casuals’ dalam ranah berbusana kian meluas. Beragam jenama seperti Stone Island, Aquascutum, Burberry, Lacoste, Prada, Façonnable, Hugo Boss, Maharishi, hingga Mandarina Duck menjadi yang terfavorit para ‘Casuals’. Akan tetapi demikian, para aparat mulai menyadari hal tersebut. Mengakibatkan, beberapa jenama tertentu pun tidak lagi dikenakan ‘Casuals’.

Popularitas ‘Casuals’ tak lagi bisa dibendung sejak memasuki era 2000-an, tentunya masih dalam skala tren berbusana. ‘Casuals’ pun memulai lekat dengan kultur pop band-band Inggris seperti The Streets atau The Mitchell Brothers. Budaya ‘Casuals’ juga diangkat ke dalam media visual seperti film-film dan serial televisi, antara lain: ID, The Firm, Cass, The Real Football Factory, hingga Green Street Hooligans 1 & 2.

Selagi dalam industri busana, berbagai jenama premium kian terang-terangan mengadopsi ciri khas ‘Casuals’ dalam karya-karya mereka. Katakan saja: Stone Island, Adidas, Lyle & Scott, Fred Perry, Armani, Three stroke, Lambretta, Pharabouth, Lacoste, Ralph Lauren, hingga CP Company. Beragam label independen dengan latar ‘Casuals’ sebagai jualannya pun turut bermunculan. Sebagaimana Albam, YMC, APC, Folk, Nudie Jeans, Edwin, Garbstore, Engineered Garments, Wood Wood dan Superga.

Suatu perihal yang patut disayangkan, lekatnya identitas ‘Casuals’ dengan kekerasan membuat subkultur ini selalu dipandang negatif oleh arus utama sepakbola Inggris. Alhasil, hal yang menarik dari ‘Casuals’ kerap direduksi menjadi sekadar tren berbusana belaka. Sementara etos mereka sebuah pergerakan kelas sosial amat untuk jarang dibicara.

Continue Reading

Share

Tentang Musik Grunge dan Stylenya

Tentang Musik Grunge dan Stylenya – Grunge (seringkali disebut juga Seattle Sounds) termasuk dalam subgenre rock altenative. Mulai dikenal sepanjang pertengahan 1980an di Washington, lebih tepatnya di Seattle. Adapun, dipercaya dari berbagai sumber bahwasannya Mark Arm, vocalis band Green River dan kemudian berganti menjadi Mudhoney, adalah orang yang pertama kali menggunakan kata grunge untuk menyebut jenis musik tertenrtu. Mark Arm pertama kali menggunakan kata tersebut sekitar tahun 1981. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif, dengan fokus penelitian yaitu pengetahuan tentang grunge, alasan tergabung dalam anggota kelompok kaum kucel, identitas grunge dan gaya hidup grunge.

Tidak seperti objek subkultur lainnya yang sudah memiliki “nama” ditengah masyarakat, grunge masih samar dan jarang diketahui oleh publik. Saat menginjak pertengahan tahun 1980-an, di Kota Seattle, AS, Grunge dilahirkan dan kemudian berkembang. slot indonesia

Tentang Musik Grunge dan Stylenya

Grunge sendiri terbentuk sebagai percabangan dari genre musik punk rock, heavy metal, dan indie rock. Grunge umumnya dikenali melalui suara distorsi gitar yang berat dan lirik melankonis atau apatistik. . Aliran musik ini pertama kali diperkenalkan oleh salah satu band legendaris, Nirvana.

Kurt Cobain dan Nirvana adalah dua hal pertama yang mungkin langsung terlintas ketika mendengar grunge. Di negara Indonesia, grunge memang kalah besar dan kurang bersinar apabila dibandingkan dengan komunitas subkultur lainnya seperti punk, rock, indie, atau bahkan k-pop sekalipun.

Akan tetapi, sepak terjang komunitas minor ini ternyata cukup menarik untuk disimak. Hal tersebut lantaran grunge bersikap independen walau harus bertahan dalam arus musik yang kompetitif.

Grunge tidak lahir dengan sendirinya. Sebagai suatu aliran yang subkultur, budaya grunge sendiri berinduk pada gaya music hardrock yang populer pada era 70-an. Lalu, sentuhan musik punk yang terlebih dahulu tenar digabungkan kedalam konsep hardrock tersebut.

Selain daripada komposisi musiknya, para musisi grunge menganggap aktivitas bermusik mereka hanyalah sekedar hobi. Tidak ada maksud komersial apalagi industrialisasi yang menjadi alasan mengapa mereka bermusik. Mereka (musisi grunge) cukup senang apabila musiknya diproduksi ulang melalui dapur rekaman dan diedarkan. Mereka menganggap hal itu bagian dari apresiasi publik terhadap karyanya.

Genre musik, sedikit banyak pasti akan mempengaruhi terhadap gaya hidup. Selayaknya musik punk yang penggemarnya dicirikan dengan tatanan busana ala gothic¸ atau jazz yang memiliki citra rapi dengan setelan tuksedo yang necis. Grunge pun mempunyai caranya sendiri dalam memadu padankan antara musik gaya hidup penggemarnya.

Ciri khas dari grunge ialah gaya hidup yang erat kaitannya dengan sampah. Mereka memilih untuk memakai pakaian bekas layak pakai dibanding membeli pakaian baru ber-merk, makan dari sisa-sisa makanan, hidup berdasarkan tunjangan sosial atau mengamen, tidur dan mabuk di trotoar atau bangku-bangku taman, dan tindakan lainnya yang oleh masyarakat dianggap kurang pantas.

Namun kebanyakan mereka yang memilih grunge tidak ingin disebut grunge jika dilihat dari latar belakang mereka yang buruk. Komunitas ini merasa lebih dihargai apabila publik melihat hidup mereka sebagai bentuk kesederhanaan, dan mengapresiasi karya mereka.

Grunge yang mulanya berawal dari sebuah aliran musik, kini semakin luas di gemari. Orang-orang yang merasa hilang ditengah budaya yang ada, kembali menemukan jati dirinya didalam grunge.

Nyatanya bagi orang-orang dalam komunitas yang mengelu-elukan Nirvana dan bernyanyi lagu “smells like teen spirit”, grunge sendiri merupakan pilihan hidup yang sesuai dengan naluri mereka, tentang kejiwaan, redup, kebebasan, kemarahan dan kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan.

Para musisi melalui musik grunge memberi pemahaman dan nilai-nilai, betapa grunge itu ada walaupun tak dibicarakan. Karena grunge tercipta melalui hati dan pilihan dari para pecintanya, bukan di teriakkan esensinya agar lebih dikenal dunia.

Ingin Bergaya Grunge? Coba Pakai 5 Fashion Items Ini :

Tentang Musik Grunge dan Stylenya

Sejalan berjalannya waktu, tentu saja fashion items yang identik dengan grunge style terus bertambah. Pada saat ini, grunge style tidak hanya identik dengan style urakan. Grunge style ternyata juga dapat terlihat glamor, feminin, hingga mewah. Jika kamu tertarik untuk mencoba gaya grunge, lima fashion items di bawah ini tidak boleh terlewatkan.

1. Nuansa serba gelap pada setiap fashion items

Fokuslah pada warna gelap. Grunge pada dasarnya sangat identik dengan warna hitam. Era sekarang, grunge style bisa dikombinasikan dengan warna abu-abu atau warna netral lainnya.

Bahkan tidak jarang ada yang mencoba mengkombinasikan gaya ini dengan warna terang. Yang penting, warna gelap harus menjadi yang paling dominan. Selain itu gaya layering adalah faktor yang sangat penting untuk tampilan grunge.

Usahakan kamu bisa memainkan layer bajumu, mulai dari kaos, flanel, hingga jaket. Kamu juga bisa memainkan layer pada bawahan yang dikenakan, misalnya menggunakan stocking beserta denim shorts.

2. Atribut Bergaya Denim

Perbanyak koleksi serba denim. Tidak hanya celana jeans, ada baiknya kamu mulai mengoleksi jaket denim, vest denim, atau celana pendek denim. Lebih bagus lagi kalau koleksi denimmu termasuk denim dengan model yang robek, terlihat pudar, dan lusuh. Jika kamu bosan dengan tampilan denim, kamu bisa sesekali beralih pada legging atau stocking.

Style grunge juga bergantung pada riasan makeup. Biasanya cewek dengan style grunge akan memiliki riasan smokey, dengan bagian mata dan bibir memakai warna gelap. Tapi kalau lipstick, mungkin kamu bisa mencobanya dengan mengenakan warna gelap seperti cokelat terlebih dahulu.

3. T-shirt bergambar rock band

Sama dengan asal muasalnya, susah rasanya membayangkan grunge style tanpa sebuah kaos band. Cobalah mempunyai kaos dengan graphic lambang band atau yang berbau rock band lainnya.

Kaos band ini pun sempat menjadi tren di kalangan para selebriti dunia, lho. Selebriti terkenal seperti Kendall Jenner dan Gigi Hadid pun pernah terlihat mengenakan kaos band ini namun diberikan twist agar terlihat lebih glamor dan modern.

Selain kaus graphic, grunge style juga membutuhkan flannel untuk kamu yang ingin terlihat lebih chic. Untuk kamu yang ingin tampil lebih feminin mungkin bisa mencoba menggunakan cropped top sebagai dalaman flanel.

4. Detail aksesori pendukung

Aksesori adalah hal penting yang wajib dimiliki kalau kamu ingin tampil grunge. Detail atau aksesori yang identik dengan grunge adalah berupa rantai berbahan metal, gelang dengan unsur spikes, aksen zipper atau ritsleting, studs, dan detail berwarna metalik lainnya.

Sangat disarankan agar jangan terlalu berlebihan ketika mengenakan aksesori pendukung ini, ya. Karena jika berlebihan pun akan membuat tampilanmu terlihat norak. Jadi sebaiknya pilih saja salah satu aksesori yang akan kamu pakai.

5. Alas kaki berupa sneakers atau sepatu boots it’s a must!

Lupakan sepatu heels cantikmu dan beralihlah pada sepatu sneakers atau boots yang cenderung berwarna hitam. Grunge style sangat identik dengan kenyamanan. Maka, jangan sampai kamu memakai sepatu yang membuat gaya kamu malah tambah ribet!

Continue Reading

Share

Meninjau Subkultur Mods yang Hidup di Jepang

Meninjau Subkultur Mods yang Hidup di Jepang – Pada negara Jepang, subkultur cenderung berumur panjang. Prinsip ini juga berlaku bagi subkultur mod. Subkultur yang berasal dari negara Inggris yang kini sudah berumur lebih dari 50 tahun ini masih hidup berkat Manabu Kuroda—wajah scene mods dan organizer acara perlombaan vespa tahunan Tokyo, MOD MAYDAY.

Terlahir sebagai subkultur yang berjiwa modern, Mods memiliki ciri khas tersendiri. Bagi mereka, fashion merupakan elemen terpenting. Diikuti musik untuk mengiringi mereka berdansa serta skuter sebagai kendaraan andalan. idn slot

Meninjau Subkultur Mods yang Hidup di Jepang

Generasi Mod yang mayoritas berasal dari para kalangan working class dan dapat dengan mudah untuk dikenali dari gaya serta cara berpakaian mereka yang terlihat rapi dan necis. Setelan jas yang dipadu dengan parka guna menjaga busana mereka agar tetap bersih bisa menjadi satu ciri khas yang cukup kentara. Musik yang mereka gemari dan dengarkan adalah blues, soul, ska dimana aliran ini tergolong sangat berbeda dari pilihan musik kebanyakan orang pada umumnya di Inggris kala itu. Begitu juga dengan kendaraan yang mereka gunakan, yaitu skuter Vespa dan Lambretta yang telah diberi aksesoris berupa lampu dan kaca spion dengan jumlah lebih dari satu hingga berkesan ‘ramai’.

Sempat mengalami revival pada akhir tahun 1970an di Inggris dan tahun 1980an di Amerika Serikat, gaung Mods masih eksis hingga saat ini. Bukan hanya di Inggris dan Amerika, namun menyebar ke seluruh dunia, termasuk negara Jepang.

VICE di Jepang nongkrong dengan Kuroda (dikenal sebagai “Manabu K.Dove”) dan ngobrol tentang The Jam, skuter Vespa klasik dan kenapa fashion mod masih terus populer.

VICE: Kapan pertama kali ketemu kultur mod?

Manabu Kuroda: 1977. Saya tengah SMA kala itu dan di ’78 saya punya kesempatan untuk bertemu The Jam. Mereka merupakan bagian dari pergerakan awal musik punk, tapi ada sesuatu yang berbeda tentang mereka. Mereka keren banget. Saat saya mulai mendengarkan The Jam, saya mulai mendengar tentang subkultur “mods” dan tertarik. Saya megetahui bahwa subkultur ini ada hubungannya dengan film Quadrophenia yang keluar di tahun ’79. Setelah menonton film tersebut, saya ketagihan.

Pada kala itu di Inggris ada semacam gerakan revival “neo-mod” ya?

Iya. Aksi mods awal dimulai di ’64 dan kemudian mulai pudar di akhir 60an. Akan tetapi kemudian 10 tahun kemudian ada gerakan revival. Di negara Inggris, gelombang kedua ini dianggap sebagai revival karena sejarah mereka dengan subkultur ini. Akan tetapi mengingat kultur Inggris 60an dan Jepang 60an sangat berbeda, ketika subkultur mods tiba di Jepang, ini dianggap sebagai hal yang baru.

Ketika itu kan subkultur punk lagi panas-panasnya di Inggris, kenapa kamu malah tertarik dengan mods?

Sebelum berkenalan dengan mods, atau The Beatles dan T.Rex, saya tertarik dengan musik pop 60an. Film American Graffiti yang penuh dengan nuansa musik pop 60an membuat saya jatuh cinta. Saya pun lebih tertarik dengan gaya mods yang formal dibanding fashion punk. Pada saat itu, imej punk adalah “semua yang berbau kacau”, tapi mods memiliki pendekatan “yuk buat sesuatu” yang lebih menarik bagi saya.

Kenapa suka dengan fashion mods?

Jas yang digunakan The Jam di cover album pertama mereka itu keren banget. Dasi hitam, sepatu hitam putih, lengkap dengan pin. Para kaum yang muda mengenakan jas yang berbeda dengan yang dikenakan para pekerja kantoran. Sesudah itu, fashion 60an juga mulai muncul di dalam film-film.

Pada tahun 80an, seperti apa fashion mod di Jepang?

Kami menggunkan parka M51 di atas jas dan sepatu boots desert. Lumayan basic sih. Akan tetapi terdapat juga yang suka mengenakan produk Levi’s. Pada periode itu, mudah sekali untuk menemukan baju Fred Perry, dan banyak orang memakai jaket di atas polo shirt merek apapun.

Bagaimana jika dibandingkan dengan fashion mod Jepang saat ini?

Saat ini semuanya sah-sah saja. Apapun cocok, dan menurut saya ini yang terbaik.

Contohnya sekarang saya mengenakan sepatu sandal Gucci.

Iya. Tak terdapat satu figur model untuk semua orang, tapi saya sering mencontoh gaya fashion Paul Weller (The Jam) sebagai referensi. Pendapat saya, dia memiliki pengaruh yang kuat terhadap fashion mod modern.

Pada zaman itu banyak yang punya skuter Lambretta dan Vespa?

Saat itu skuter masih sedikit sekali. Saya pun beli Vespa keren di ’81 dan hanya ada satu orang pengendara vespa lainnya.

Kapan skuter mulai ngetren bagi anak muda Jepang?

Mungkin di 1983 atau 1984. Saya mengadakan MODS MAYDAY di Shinjuku di Ruido dan mungkin ada sekitar lima atau enam skuter di sana. Kami menjejerkan skuternya di depan venue dan semua orang sangat bersemangat. Di akhir MOD MAYDAY, kami semua muter-muter bareng. Tapi saat itu, MOD MAYDAY belum jadi acara tahunan, masih acara kumpul bareng aja. Ketika kami mulai pindah ke Club Citta, baru deh mulai jadi acara yang lebih besar. Terdapat pula sebuah event di Kawasaki di 1990 yang berhasil mengundang banyak orang datang dengan skuter mereka.

Bagaimana perkembangan kancah mod di Jepang?

Meninjau Subkultur Mods yang Hidup di Jepang

Ketika mods mulai hadir di Jepang, umur subkultur tersebut sudah sekitar 30 tahun. Sehingga revival mod sudah basi di zaman itu. Nah namun di Tokyo, scene mod dan kulturnya mempunyai akar yang kuat. Jelas bahwa London punya scene mereka sendiri, tapi di sini subkultur ini mulai berevolusi, menyesuaikan diri dengan penduduk Jepang asli.

Scene mods Jepang memuncak di 90an, dan semenjak itu angka pengunjung event mods semakin berkurang. Saya jadi penasaran anak-anak muda sekarang dengerin musik apa sih?

Scene mods kan dimulai oleh kalangan buruh Inggris. Jepang tak mempunyai sistem perbedaan kelas yang terlalu timpang. Apa perbedaannya, semangat kultur mod Jepang dibanding asalnya dari Inggris?

Di negara Jepang, kultur mod baru benar-benar dimulai di 80an. Di negara Inggris, kultur mod berhubungan dengan isu diskriminasi, masalah dengan Irlandian Utara dan masalah-masalah politik. Kita di Tokyo jelas tertarik dengan masalah-masalah yang terjadi di Inggris, tapi kami juga sadar akan ada hal-hal yang tidak kami mengerti.

Kaum muda mods Jepang saat itu juga mengalami banyak masalah dan selalu terlibat dalam isu-isu politis. Ini bukan sekedar sisa pergerakan pelajar. Ini sangat penting di tahun 80an. Sejak remaja hingga dewasa, saya selalu tertarik dengan fashion dan kultur, tapi juga sadar akan isu-isu politik yang penting di saat itu. Jepang ya Jepang. Tokyo ya Tokyo. Saya memang tak dibesarkan di keluarga working class, tapi saya rasa penting untuk melek seputar isu yang menjadi “identitas” setiap generasi. Ini adalah bagian yang penting dari kultur mod.

Continue Reading

Share

Teddy Girl: Subkultur Pertama Inggris yang Menjadi Inspirasi Dior

Teddy Girl: Subkultur Pertama Inggris yang Menjadi Inspirasi Dior – Pada ranah fashion kelas atas, Maria Grazia Chiuri sang direktur kreatif rumah mode Dior, dianggap sebagai desainer feminis. Anggapan itu muncul usai koleksi terbatas berupa kaus putih bertuliskan ‘We All Should be Feminist’ dipasarkan pada 2017. Kaus yang desainnya terinspirasi dari judul buku penulis perempuan asal Nigeria Chimamanda Ngozi Adichie itu seketika viral di media sosial, terlebih setelah selebritas Rihanna mengunggah foto sedang memakai kaus itu.

Semenjak resmi bekerja di Dior pada Juni 2016, Chiuri bertekad bahwa dirinya harus bersikap lebih vokal lewat penciptaan konsep desain busana yang mendukung berbagai wacana sosial positif dari para perempuan. Keinginannya kian membulat setelah ia mengamati gerakan #metoo yang salah satunya tujuannya untuk mendorong perempuan berani bersuara dan memperjuangkan keadilan. slot online indonesia

Teddy Girl: Subkultur Pertama Inggris yang Menjadi Inspirasi Dior

Pada akhir bulan februari 2019, Chiuri kembali mengeluarkan kaus bernada aktivisme, bertuliskan ‘Sisterhood Global’ yang terinspirasi dari judul buku aktivis feminis asal AS, Robin Morgan. Kali ini Chiuri ingin menyampaikan pesan sosial pada pelanggan setia Dior secara lebih efektif. Kaus itu memang bagian koleksi musim dingin 2019 yang mengangkat tema utama Teddy Girl–sebutan bagi anggota perempuan subkultur Teds di Inggris pada 1950-an. Ciri khas anggota kelompok ini, antara lain, mengenakan blazer longgar, celana denim digulung, kemeja berkerah tinggi, dan sepatu tanpa hak.

Chiuri mengisahkan bahwa ide itu muncul setelah partner bisnisnya, Stephen Jones memperlihatkan potret Teddy Girl karya sutradara asal Inggris Ken Russell.

“Aku merasa busana Teddy Girl bicara tentang tradisi, tetapi di saat yang sama juga bicara tentang perlawanan terhadap aturan yang ada. Aku tidak bisa lagi bersikap naif dengan menganggap fesyen sebagai sarana ekspresi diri, aku harus bisa menyampaikan pesan positif kepada publik,” kata Chiuri kepada Vogue.

Dior memperkenalkan kampanye terbarunya untuk koleksi Autumn/Winter 2020 yang merupakan konfrontasi antara gambar, tubuh, siluet, dan bahasa. Maria Grazia Chiuri menyodorkan ide kreatif yang hadir dari tahun 1950-an, yaitu Teddy Girls.

Teddy Girls dijadikan tandingan dari Teddy Boys, subkultur Inggris pertama yang muncul pada periode paska perang di tahun 1950-an, masa di mana Christian Dior memiliki tampilan baru yang jarang dieksplorasi oleh Maria sendiri. Dari pandangan tertentu, Teddy Girls merupakan karakter yang tidak sopan dilihat dari padu padan busananya, seperti jaket pria gaya Edwardian, syal beludru, rok besar, celana jeans, dan jaket kulit hitam.

Inilah yang kemudian menghadirkan perspektif baru di tahun 1950-an dan dikaitkan dengan karakter Putri Margaret oleh Maria sendiri. Putri Margaret terkenal karena pernah memberontak dengan memilih gaun Dior pada ulang tahunnya yang ke 21 di tahun 1951 dan difoto oleh Cecil Beaton.

Dari sinilah Christian Dior sangat tertarik pada perpaduan klasikisme, subversi, keanggunan, dan pemberontakan dalam budaya Inggris, yang kemudian dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk pameran Designer of Dreams, now at the Victoria & Albert Museum in London. Maria berusaha menggambarkannya satu per satu untuk desain koleksi terbaru Dior.

Teddy Girl: Subkultur Pertama di Inggris yang Sayup Terdengar

Potret yang diperlihatkan Jones kepada Chiuri adalah bagian dari serial foto The Last of the Teddy Girls yang menunjukkan potret Teddy Girl dan Teddy Boy–sebutan bagi anggota Teds berjenis kelamin pria. Pada 1950-an, Russell berkunjung ke Notting Hill, Inggris, untuk mendokumentasikan anak-anak muda ini di muka reruntuhan bangunan yang runtuh akibat Perang Dunia II.

Dalam dokumentasi Russell, para Teddy Girl tampil dalam berbagai gaya. Ada kalanya mereka mengenakan setelan jas lengkap yang terdiri dari blazer, kemeja berkerah tinggi, waistcoat, celana berpotongan ramping dan lurus. Ada juga yang berpenampilan lebih kasual dengan mengenakan kaus, celana denim yang digulung, jas, serta syal. Sebagian perempuan dalam potret tersebut nampak memakai rok longgar selutut yang dipadukan dengan jas sepinggang. Ada juga yang terkesan lebih serius lantaran mengenakan coat dress yang menutupi setengah betis.

“Sebelum aku, tidak ada orang yang memperhatikan eksistensi Teddy Girls. Buatku, mereka adalah sosok-sosok yang innocent,” kata Russell kepada Another, majalah yang mengklaim kelompok Teddy Girl sebagai kaum terlupakan.

Teddy Girl: Subkultur Pertama Inggris yang Menjadi Inspirasi Dior

Teds dapat dibilang sebagai subkultur pertama yang muncul di Inggris. Robert J. Cross dalam riset “The Teddy Boy as Scapegoat” (1998) menyebut bahwa kelompok ini muncul tak lama setelah pemerintah Inggris menerapkan kebijakan untuk memusnahkan pemukiman kumuh di sekitar London setelah perang dunia.

Sebagian warga direlokasi ke tempat tinggal komunal, sebagian lagi dikirim ke luar kota. Peristiwa itu menyebabkan para individu yang berasal dari kelas pekerja ini terpisah dari keluarga dan kelompoknya.

Anak-anak muda korban penggusuran lantas merasa perlu membuat komunitas dan menunjukkan identitas diri mereka. Kala itu, mereka tergolong marjinal, kaum pekerja tanpa keahlian khusus yang digaji di bawah minimum. Mereka juga jadi bagian masyarakat yang tidak punya akses ke sarana hiburan. Oleh karena itu, dengan membentuk kelompok, mereka berharap bisa mendapatkan hal-hal yang tak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, yakni perasaan dihargai atau dihormati, dan kesempatan untuk bersenang-senang.

“Mereka menggunakan busana sebagai alat untuk mendapatkan hak yakni hak untuk diperhatikan,” kata Peter Lewis dalam The Fifties (1978) seperti yang dikutip Cross. Gaya busana tersebut membuat mereka merasa lebih berdaya dan merasa bisa dianggap sebagai “seseorang” di tengah masyarakat yang menganggap mereka bukan siapa-siapa.

Teds kemudian mengadaptasi gaya busana kaum Edwardian, golongan yang pada 1900-an dianggap paling elite. Para Teds mengambil jas yang dijahit rapi sebagai seragam utama. Mereka menciptakan padanan busana baru yang tidak mainstream pada zamannya.

“Dengan bergaya seperti orang kaya, Teds mengejek janji-janji pemerintah dalam menciptakan kondisi sosial yang egaliter dan tidak memandang kelas. Hal ini merupakan aksi penolakan untuk tunduk pada kelas yang dianggap lebih superior,” tulis Cross.

Kaum elite Inggris menganggap Teds sebagai sekelompok anak muda yang punya gangguan jiwa karena punya dandanan nyeleneh. Mereka dilarang untuk masuk ke bioskop dan dilarang bergaul dengan sosok sebaya yang berbeda kelas. Ini juga bisa ditengok di film-film di Inggris dekade 1950-an seperti Cosh Boy, Violent Playground, Sapphire, The Angry Silene, Wind of Change, dan Flame in the Streets yang menggambarkan sosok Teds sebagai kelompok yang harus dimusnahkan.

Usia subkultur ini tidak panjang. Teds menggapai puncak pada 1956 dan meredup pada 1958. Pada 1970-an pamor Teds muncul lagi akibat keberadaan pesohor yang mengadaptasi gaya busana mereka. Meski tak berumur panjang, subkultur ini berhasil mengubah anggapan orang tentang Edwardian suites. Kelompok ini juga menginspirasi gerakan subkultur lain di Inggris seperti Skinhead dan Mod. Pada ranah mode, baru Dior yang jelas-jelas menyatakan terinspirasi dari Teddy Girl.

Continue Reading

Share